Resume
Masalah Keperawatan Jiwa
Gangguan Devisit Perawatan Diri Pada Pasien Gangguan Jiwa
Kesehatan
bersifat komprehensif yang meliputi seluruh aspek kehidupan untuk mencapai keadaan
sejahtera baik fisik, mental atau jiwa, sosial atau spiritual. Kesehatan
didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera sacara fisik, mental dan sosial
yang optimal, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Kesehatan
jiwa sangat erat kaitannya dengan konsep tentang kesehatan secara umum.
Individu yang sehat jiwa dapat beradaptasi dari lingkungan internal dan
eksternal sesuai norma dan budayanya (world health organization, 2005).5
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu
berjalan baik dengan keadaan orang lain (UU No 36, 2009).2 Gangguan
jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan
jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga
yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau gila (Hardianto, 2009).5
Kesehatan jiwa menurut World Health Organization (WHO) tahun 2001 yaitu kondisi
sejahtera dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi
stress dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif dan mempunyai
kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut
Badan Kesehatan Dunia (world health organization), jumlah penderita gangguan
jiwa di dunia adalah 450 juta jiwa. Dengan mengacu data tersebut, kini jumlah itu
diperkirakan sudah meningkat. Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk
Indonesia, ada sekitar 50 juta atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan.
Data yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia/WHO (world health
organization) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa diperkirakan 26 juta penduduk
indonesia mengalami gangguan kejiwaan, dari tingkat ringan hingga berat.5 Gangguan
Jiwa menurut Townsen ( 2009 ) merupakan respon maladaptif terhadap stresor dari
dalam dan luar lingkungan yang berhubungan dengan perasaan dan perilaku yang
tidak sejalan dengan kebiasaan atau norma setempat, mempengaruhi interaksi
sosial individu, kegiatan dan fungsi tubuh. Secara umum gangguan jiwa
digambarkan dengan adanya gangguan pikiran, perilaku dan perasaan.1
Pada
setiap masalah keperawatan jiwa yang selalu dan bahkan dapat terjadi pada
setiap pasien yang mengalami gangguan jiwa adalah defisit perawatan diri.
Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara
mandiri seperti mandi, berpakaian, makan, BAK/BAB (fitria, 2009).5
Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan dimana orang tersebut tidak dapat
melakukan aktifitas perawatan diri, seperti mandi, berganti pakaian, makan, dan
toileting ( Walkson, 2007 )1 Defisit perawatan diri merupakan suatu
kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan dalam melakukan atau melengkapi
tindakan keperawatan yang tepat. Defisit perawatan diri digambarkan sehubungan
dengan berbagai kegiatan perawatan diri termasuk makan, mandi, berpakaian dan
buang hajat.Masalah umum yang dialami pasien gangguan jiwa adalah kurangnya
dalam melakukan pekerjaan rutin sehari-hari (ADL). (Activity of Daily Living)
pada pasien jiwa, dan itu di sebabkan oleh adanya gangguan mental pada pasien
dan kurangnya pendidikan kesehatan/penyuluhan mengenai perawatan diri pada
pasien gangguan jiwa.5 Oleh karena itu Pendidikan kesehatan
merupakan suatu proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah
atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan, sikap,
ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara
individu, dan kelompok (Notoatmodjo,2007). Tindakan yang sudah dikembangkan
dalam mengatasi defisit perawatan diri ini terdiri dari tindakan keperawatan
generalis dan spesialis. Tindakan keperawatan generalis yang dilakukan yaitu
klien diajarkan dan dilatih untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri yang
meliputi mandi, berhias, makan dan minum dengan benar serta toileting (BAK dan
BAB secara benar). Tindakan keperawatan spesialis yang tepat dan dapat
dilakukan untuk klien dengan defisit perawatan diri antara lain adalah terapi
perilaku, terapi suportif, terapi kelompok swa bantu dan terapi psiko edukasi
keluarga. Terdapat juga Definisi lain, Defisit perawatan diri adalah suatu
keadaan dimana orang tersebut tidak dapat melakukan aktifitas perawatan diri,
seperti mandi, berganti pakaian, makan, dan toileting ( Walkson, 2007 )1
Gangguan
mental dapat membatasi apa yang seseorang dapat lakukan untuk dirinya sendiri,
dan mungkin melibatkan struktural dan perubahan fungsional, dan itu sangat
memerlukan menggunakan langkah-langkah perawatan diri khusus. aktivitas
sehari-hari adalah kemampuan yang klien perlukan untuk per Formance independen
perawatan diri, komunikasi dan mobilitas.kemampuan klien untuk melakukan
kegiatan ini memberikan kontribusi baik secara positif maupun negatif terhadap
kesehatan keseluruhan. Yang paling penting dari kegiatan ini adalah makan,
mandi, berpakaian serta ke toilet. Dalam aktivitas sehari-hari harus ditentukan
apakah individu mampu melakukan perawatan diri dalam bentuk mandiri atau
membutuhkan bantuan orang lain. Menurut Orem, defisit perawatan diri ada ketika
selfcare yang lembaga tidak dapat memenuhi beberapa atau semua komponen
tuntutan perawatan diri. Perawatan diri adalah kemampuan individu untuk melakukan
perawatan diri. Perawatan diri
terapeutik permintaan mengacu pada tindakan yang diperlukan dalam rangka untuk
memenuhi persyaratan untuk perawatan diri.4 Terapi diberikan kepada
17 orang klien (8 skizofrenia, 5 retardasi mental dan 4 demensia) dengan
defisit perawatan diri. Paket terapi yang pertama adalah tindakan keperawatan
generalis (klien dan keluarga) dan behaviour
theraphy. Paket terapi yang kedua adalah tindakan keperawatan generalis
(klien dan keluarga) dan behaviour
theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy. Paket terapi yang ketiga
adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif
theraphy dan self help group theraphy. Seluruh klien dan keluarga dengan
anggota keluarga mengalami defisit perawatan diri telah mendapatkan paket
terapi secara tuntas. Hasil evaluasi pelaksanaan terapi menunjukkan bahwa paket
terapi yang memberikan efek khususnya untuk lebih mengurangi respon terhadap
stressor pada klien dengan defisit perawatan diri dan meningkatkan kemampuan
klien untuk merawat diri adalah Behaviour
Theraphy (100%), Behaviour Theraphy dan Supportif Theraphy (100%) serta Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan
Self Help Group (100%). Dari ketiga paket terapi tersebut, paket terapi
ketiga terbukti paling efektif untuk mengatasi masalah klien defisit perawatan
diri, yaitu Behaviour Theraphy, Supportif
Theraphy dan Self Help Group. Sedangkan terapi untuk keluarga, terapi yang
efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat klien defisit
perawatan diri adalah pemberian terapi Family
Psycoeducation, Family Psycoeducation dan Supportif Theraphy serta Family
Psycoeducation, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Dari ketiga paket
terapi yang diberikan. pada keluarga tersebut, terapi yang terbukti paling
efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga adalah pemberian paket terapi
yang ketiga, yaitu Family Psycoeducation,
Supportif Theraphy dan Self Help Group. Hasil pelaksanaan terapi adalah
paket terapi ketiga yang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan dan
menurunkan tanda gejala klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis
skizofrenia dan retardasi mental.2
Terapi
yang lain juga dapat digunakan seperti “Token
Economy”. Menurut Herdiman ( 2012) defisit perawatan diri pada pasien
dengan gangguan jiwa dapat dilakukan tindakan keperawatan meliputi terapi
generalis dan terapi spesialis, salah satu terapi spesialis yang dapat
digunakan pada diagnosa defisit perawatan diri adalah terapi “token ekonomi”.1
Menurut Stuart dan Laraia (2005) “token
ekonomi” adalah bentuk dari reinforcemen
positif yang baik digunakan baik secara individu maupun kelompok, perilaku
dapat meliputi tentang personal hygine. Hal
ini didukung oleh penelitian bahwa perilaku “token economy” berhasil digunakan di rumah sakit jiwa, dan sekolah
untuk cacat mental.1
Pasien
gangguan jiwa memerlukan suatu bimbingan atau dukungan dari keluarga dan orang
lain. Agar pasien gangguan jiwa dapat merawat diri secara mandiri dan
meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah. Penelitian yang dilakukan oleh
Parendrawati (2008) terhadap 110 klien gangguan jiwa yang mengalami defisit
perawatan diri di RSMM Bogor menunjukkan hasil bahwa dengan pemberian terapi
spesialis keperawatan jiwa “token ekonomi”
menunjukkan peningkatan kemampuan. Kemampuan klien merawat diri diukur dan
diobservasi secara statistik dan menunjukkan hasil bahwa pada klien defisit
perawatan diri yang diberikan terapi “token
ekonomi” mengalami peningkatan kemampuan dibandingkan dengan klien defisit
perawatan diri yang tidak diberikan terapi “token
ekonomi”1
Dapat
disimpulkan bahwa terapi yang dilakukan untuk pasien dengan Defisit perawatan
diri pada pasien dengan gangguan jiwa Seluruh klien dan keluarga dengan anggota
keluarga mendapatkan paket terapi secara tuntas. Hasil dari pelaksanaan terapi
menunjukkan bahwa paket terapi memberikan efek, khususnya untuk lebih
mengurangi respon terhadap stressor pada klien dengan defisit perawatan diri
dan meningkatkan kemampuan klien untuk merawat diri secara mandiri.2
DAFTAR
PUSTAKA
1. M,Anny.R.,Keliat,B.A.,Mustikasar. Efektifitas Terapi Perilaku “Token Ekonomi”
dan Psikoedukasi Keluarga Pada Pasien Dengan Defisit Perawatan Diri RW 08 Dan RW 13 Baranangsiang Bogor Timur.
2010 ; Volume 3 No.1
2. Keliat,B.A.,Rochmawati,D.H.,Wardani,I.Y. Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit
Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di RW 02 DAN RW 12 Kelurahan
Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur. 2013 ; Volume 1 ( 107-120 )
3.
Heli Hatonen. Patient Education To Support The Self-Managemen Of Patients With Mental
Ilness. 2010.
4.
Kaur Manjeet., Vati Jogindra., Kaur Sukhpal. Self care deficits of admitted patient.
5. Wewiling,F.,Bidjuni,H.,Madalise,S. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Pada
Pasien Gangguan Jiwa( Devisit Perawatan Diri ) Terhadap Pelaksanaan ADL
(Activity Of Dayli Living) Kebersihan Gigi Dan Mulut Di RSJ Prof.Dr.V.L
Ratumbuysang. 2015;Volume 3 No.2
0 komentar:
Posting Komentar