Laman

Rabu, 18 November 2015

Resume Artikel Jurnal


Resume Masalah Keperawatan Jiwa
                                  Gangguan Devisit Perawatan Diri Pada Pasien Gangguan Jiwa




Kesehatan bersifat komprehensif yang meliputi seluruh aspek kehidupan untuk mencapai keadaan sejahtera baik fisik, mental atau jiwa, sosial atau spiritual. Kesehatan didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera sacara fisik, mental dan sosial yang optimal, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Kesehatan jiwa sangat erat kaitannya dengan konsep tentang kesehatan secara umum. Individu yang sehat jiwa dapat beradaptasi dari lingkungan internal dan eksternal sesuai norma dan budayanya (world health organization, 2005).5 Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan baik dengan keadaan orang lain (UU No 36, 2009).2 Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya. Hanya saja gangguan jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau gila (Hardianto, 2009).5 Kesehatan jiwa menurut World Health Organization (WHO) tahun 2001 yaitu kondisi sejahtera dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi stress dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif dan mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Badan Kesehatan Dunia (world health organization), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia adalah 450 juta jiwa. Dengan mengacu data tersebut, kini jumlah itu diperkirakan sudah meningkat. Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 50 juta atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan. Data yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia/WHO (world health organization) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa diperkirakan 26 juta penduduk indonesia mengalami gangguan kejiwaan, dari tingkat ringan hingga berat.5 Gangguan Jiwa menurut Townsen ( 2009 ) merupakan respon maladaptif terhadap stresor dari dalam dan luar lingkungan yang berhubungan dengan perasaan dan perilaku yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau norma setempat, mempengaruhi interaksi sosial individu, kegiatan dan fungsi tubuh. Secara umum gangguan jiwa digambarkan dengan adanya gangguan pikiran, perilaku dan perasaan.1
Pada setiap masalah keperawatan jiwa yang selalu dan bahkan dapat terjadi pada setiap pasien yang mengalami gangguan jiwa adalah defisit perawatan diri. Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berpakaian, makan, BAK/BAB (fitria, 2009).5 Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan dimana orang tersebut tidak dapat melakukan aktifitas perawatan diri, seperti mandi, berganti pakaian, makan, dan toileting ( Walkson, 2007 )1 Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan dalam melakukan atau melengkapi tindakan keperawatan yang tepat. Defisit perawatan diri digambarkan sehubungan dengan berbagai kegiatan perawatan diri termasuk makan, mandi, berpakaian dan buang hajat.Masalah umum yang dialami pasien gangguan jiwa adalah kurangnya dalam melakukan pekerjaan rutin sehari-hari (ADL). (Activity of Daily Living) pada pasien jiwa, dan itu di sebabkan oleh adanya gangguan mental pada pasien dan kurangnya pendidikan kesehatan/penyuluhan mengenai perawatan diri pada pasien gangguan jiwa.5 Oleh karena itu Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan, sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu, dan kelompok (Notoatmodjo,2007). Tindakan yang sudah dikembangkan dalam mengatasi defisit perawatan diri ini terdiri dari tindakan keperawatan generalis dan spesialis. Tindakan keperawatan generalis yang dilakukan yaitu klien diajarkan dan dilatih untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri yang meliputi mandi, berhias, makan dan minum dengan benar serta toileting (BAK dan BAB secara benar). Tindakan keperawatan spesialis yang tepat dan dapat dilakukan untuk klien dengan defisit perawatan diri antara lain adalah terapi perilaku, terapi suportif, terapi kelompok swa bantu dan terapi psiko edukasi keluarga. Terdapat juga Definisi lain, Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan dimana orang tersebut tidak dapat melakukan aktifitas perawatan diri, seperti mandi, berganti pakaian, makan, dan toileting ( Walkson, 2007 )1
Gangguan mental dapat membatasi apa yang seseorang dapat lakukan untuk dirinya sendiri, dan mungkin melibatkan struktural dan perubahan fungsional, dan itu sangat memerlukan menggunakan langkah-langkah perawatan diri khusus. aktivitas sehari-hari adalah kemampuan yang klien perlukan untuk per Formance independen perawatan diri, komunikasi dan mobilitas.kemampuan klien untuk melakukan kegiatan ini memberikan kontribusi baik secara positif maupun negatif terhadap kesehatan keseluruhan. Yang paling penting dari kegiatan ini adalah makan, mandi, berpakaian serta ke toilet. Dalam aktivitas sehari-hari harus ditentukan apakah individu mampu melakukan perawatan diri dalam bentuk mandiri atau membutuhkan bantuan orang lain. Menurut Orem, defisit perawatan diri ada ketika selfcare yang lembaga tidak dapat memenuhi beberapa atau semua komponen tuntutan perawatan diri. Perawatan diri adalah kemampuan individu untuk melakukan  perawatan diri. Perawatan diri terapeutik permintaan mengacu pada tindakan yang diperlukan dalam rangka untuk memenuhi persyaratan untuk perawatan diri.4 Terapi diberikan kepada 17 orang klien (8 skizofrenia, 5 retardasi mental dan 4 demensia) dengan defisit perawatan diri. Paket terapi yang pertama adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy. Paket terapi yang kedua adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy. Paket terapi yang ketiga adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy dan self help group theraphy. Seluruh klien dan keluarga dengan anggota keluarga mengalami defisit perawatan diri telah mendapatkan paket terapi secara tuntas. Hasil evaluasi pelaksanaan terapi menunjukkan bahwa paket terapi yang memberikan efek khususnya untuk lebih mengurangi respon terhadap stressor pada klien dengan defisit perawatan diri dan meningkatkan kemampuan klien untuk merawat diri adalah Behaviour Theraphy (100%), Behaviour Theraphy dan Supportif Theraphy (100%) serta Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group (100%). Dari ketiga paket terapi tersebut, paket terapi ketiga terbukti paling efektif untuk mengatasi masalah klien defisit perawatan diri, yaitu Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Sedangkan terapi untuk keluarga, terapi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat klien defisit perawatan diri adalah pemberian terapi Family Psycoeducation, Family Psycoeducation dan Supportif Theraphy serta Family Psycoeducation, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Dari ketiga paket terapi yang diberikan. pada keluarga tersebut, terapi yang terbukti paling efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga adalah pemberian paket terapi yang ketiga, yaitu Family Psycoeducation, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Hasil pelaksanaan terapi adalah paket terapi ketiga yang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan dan menurunkan tanda gejala klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis skizofrenia dan retardasi mental.2
Terapi yang lain juga dapat digunakan seperti “Token Economy”. Menurut Herdiman ( 2012) defisit perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa dapat dilakukan tindakan keperawatan meliputi terapi generalis dan terapi spesialis, salah satu terapi spesialis yang dapat digunakan pada diagnosa defisit perawatan diri adalah terapi “token ekonomi”.1 Menurut Stuart dan Laraia (2005) “token ekonomi” adalah bentuk dari reinforcemen positif yang baik digunakan baik secara individu maupun kelompok, perilaku dapat meliputi tentang personal hygine. Hal ini didukung oleh penelitian bahwa perilaku “token economy” berhasil digunakan di rumah sakit jiwa, dan sekolah untuk cacat mental.1
Pasien gangguan jiwa memerlukan suatu bimbingan atau dukungan dari keluarga dan orang lain. Agar pasien gangguan jiwa dapat merawat diri secara mandiri dan meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah. Penelitian yang dilakukan oleh Parendrawati (2008) terhadap 110 klien gangguan jiwa yang mengalami defisit perawatan diri di RSMM Bogor menunjukkan hasil bahwa dengan pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa “token ekonomi” menunjukkan peningkatan kemampuan. Kemampuan klien merawat diri diukur dan diobservasi secara statistik dan menunjukkan hasil bahwa pada klien defisit perawatan diri yang diberikan terapi “token ekonomi” mengalami peningkatan kemampuan dibandingkan dengan klien defisit perawatan diri yang tidak diberikan terapi “token ekonomi”1
Dapat disimpulkan bahwa terapi yang dilakukan untuk pasien dengan Defisit perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa Seluruh klien dan keluarga dengan anggota keluarga mendapatkan paket terapi secara tuntas. Hasil dari pelaksanaan terapi menunjukkan bahwa paket terapi memberikan efek, khususnya untuk lebih mengurangi respon terhadap stressor pada klien dengan defisit perawatan diri dan meningkatkan kemampuan klien untuk merawat diri secara mandiri.2


DAFTAR PUSTAKA

1.    M,Anny.R.,Keliat,B.A.,Mustikasar. Efektifitas Terapi Perilaku “Token Ekonomi” dan Psikoedukasi Keluarga Pada Pasien Dengan Defisit Perawatan Diri  RW 08 Dan RW 13 Baranangsiang Bogor Timur. 2010 ; Volume 3 No.1
2.    Keliat,B.A.,Rochmawati,D.H.,Wardani,I.Y. Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di RW 02 DAN RW 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur. 2013 ; Volume 1 ( 107-120 )
3.     Heli Hatonen. Patient Education To Support The Self-Managemen Of Patients With Mental Ilness. 2010.
4.     Kaur Manjeet., Vati Jogindra., Kaur Sukhpal. Self care deficits of admitted patient.
5.   Wewiling,F.,Bidjuni,H.,Madalise,S. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Pada Pasien Gangguan Jiwa( Devisit Perawatan Diri ) Terhadap Pelaksanaan ADL (Activity Of Dayli Living) Kebersihan Gigi Dan Mulut Di RSJ Prof.Dr.V.L Ratumbuysang. 2015;Volume 3 No.2



0 komentar:

Posting Komentar